Cerita Lansung Amelia Ahmad Yani mengenang detik-detik kematian ayahnya.

Amelia Ahmad Yani mengenang detik-detik kematian ayahnya.
Amelia masih mengingat rasa takut, sedih, dan kepanikan yang menderanya pada Jumat 1 Oktober 1965 dini hari.
Puluhan pasukan tiba di rumah Amelia sekitar pukul 04.00 WIB. Amelia mengingat pasukan itu sebagai sepasukan Cakrabirawa beserta Pemuda Rakyat, serta underbow PKI. Mereka bertolak dari ‘markas’ yang berlokasi di Lubang Buaya.
Tanpa ampun, pasukan itu langsung menyerbu masuk ke kediaman Ahmad Yani yang terletak di Jalan Lembang No. 67, Menteng, Jakarta Pusat
“Mereka bergerak dari Lubang Buaya pada 30 September tengah malam dan sampai di rumah 7 prajurit antara pukul 04.00 dan 04.30 WIB, tanggal 1 Oktober 1965, Jumat legi,” ujar Amelia kepada kumparan melalui sambungan telepon, Selasa (19/9).
Tanpa takut, Yani langsung melakukan perlawanan. Tanpa ragu pasukan tersebut langsung menembak ke arah Yani.
“Ayah kami Achmad Yani yang melakukan perlawanan, langsung ditembak dan kemudian diculik. Masih dalam piyama abu-abu di depan mata kami semua,” kata Amelia lagi.
Sebelum ditembak, Yani, yang saat itu menjabat sebagai Panglima Angkatan Darat, menyempatkan diri untuk mengepalkan tangan kanannya dan meninju salah satu pasukan Cakrabirawa yang membentaknya.

Amelia Yani (NOT COVER)

Amelia Yani (Foto: Dok. Kementerian Luar Negeri)

“Ayah kami meninju salah satu Cakrabirawa yang berani membentak beliau dan tinju langsung mendarat di kepala seorang Cakrabirawa yang langsung roboh,” ucapnya lagi.
“Ayah berbalik dan menutup pintu kaca. Dalam jarak 1,5 meter, tembakan beruntun tepat mengenai ayah kami,” ujarnya.
Kenangan itu masih membekas di ingatan Amelia. Bagaimana suara tembakan beruntun yang lebih mirip suara halilintar itu memecah keheningan subuh. Tak ada kata yang bisa menggambarkan perasaan putri ketiga Ahmad Yani ini saat itu. Takut, marah, sedih.
Adegan para pasukan Cakrabirawa menyeret tubuh sang Panglima Angkatan Darat menambah histeris suasana pagi itu.
“Beliau jatuh berlumur darah. Kami menangis dan menjerit-jerit sejadinya melihat ayah kami diseret-seret. Mereka menarik kedua kaki ayah kami dan berlari menyeretnya,” ujarnya.

Museum Sasmitaloka

Museum Sasmitaloka (Foto: Flickr Orangescale Studio)

Amelia yang saat ini menjabat sebagai Dubes Bosnia ini masih ingat bagaimana ia masih berusaha mengejar sang ayah yang sudah diangkut masuk ke dalam sebuah truk.
“Kami sambil menangis menjerit mengikuti ayah kami di belakang prajurit Cakrabirawa yang,” tuturnya.
Namun, Amelia bersama tujuh saudaranya yang lain tak bisa mengejar hingga jauh. Langkahnya mereka dihentikan oleh pasukan Cakrabirawa serta ratusan pasukan yang memakai baju hijau tanpa sepatu sambil membawa senjata.
“Kalau tidak masuk akan ditembak semua,” kenang Amelia atas ucapan pasukan yang sudah mengepung rumahnya.

Museum Sasmitaloka

Museum Sasmitaloka (Foto: Wikimedia Commons)

Senjata sudah siap dikokang dan ditembakkan ke arah istri serta anak Ahmad Yani. Keluarga Yani hanya bisa nangis sejadi-jadinya dan menjerit. Tak ada yang bisa menolong.
Pasukan Garnisun yang bertugas melakukan penjagaan di rumah Yani hanya melongo. Semua senjata mereka sudah dilucuti.
“Setelah kejadian itu, hanya terdengar suara kendaraan truk-truk menuju ke arah Pasar Rumput,” kenangnya.
sumber : kumparan

from Halo Dunia Network http://ift.tt/2xQy3nB
via IFTTT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s